Rabu, 16 November 2016

cara mengatasi anak nakal

4 Tips Cara Mengatasi Anak Nakal
Tidak mudah dan membutuhkan usaha ekstra bila di bandingkan dengan mendidik anak yang memiliki kepribadian yang biasa-biasa saja bahkan lebih rentan untuk diatur.

Dalam praktek nya, banyak orang tua yang tidak mampu menunggu dalam mengendalikan anak-anak nakal dan mereka cenderung melakukan hal yang kurang baik terhadap anak sebagai salah satu solusi dalam mendisiplinkan anak nakal.

Kebanyakan orang tua mungkin menganggap bahwa ini adalah hal yang benar, tetapi ia melakukannya? Benar-benar nakal mendidik anak dengan kekerasan akan membuat mereka menjadi lebih disiplin? Jawabannya tentu tidak.
 

Mendisiplinkan anak nakal dengan paksa hanya akan membuat anak-anak lebih banyak dan tidak takut siapa pun, dan bahkan cenderung keras kepala. Dalam hal ini, orang tua harus menerapkan cara yang berbeda dalam menghadapi anak yang nakal, tapi tidak dengan cara kasar terutama yang anak suka bermain sebab akan berdampak sangat buruk pada pertumbuhan anak. Untuk mendisiplinkan anak nakal, ada beberapa cara yang perlu dilaksanakan agar kedisiplinan anak timbul dalam dirinya. Setiap orang tua pasti ingin anak nya yang nakal menjadi disiplin, bukan? Hal ini karena memiliki anak nakal kadang-kadang membuat orang tua tertekan karena merasa salah dalam mendidik anak.

Di sadari atau tidak, anak menjadi taat atau bahkan sedikit lebih nakal memang terjadi karena intervensi dari orang tua dalam melaksanakan pendidikan anak. Untuk itu, bagi orang tua stidaknya terutama ibu-ibu yang memiliki anak yang nakal, kita harus siap dan sabar untuk bisa mengembalikan kepribadian anak menjadi patuh disiplin. Jadi bagaimana mendidik anak-anak sehingga anak-anak nakal mereka mampu untuk taat dan disiplin dan bisa membanggakan kedua orang tua? Untuk menjawab pertanyaan ini, kali ini kita akan membahas tentang anak yang nakal, menyebabkan anak menjadi nakal dan bagaimana cara mengatasi anak nakal, sehingga mereka dapat kembali ke anak disiplin dan patuh kepada orang tuanya.



A. Penyebab-Penyebab Anak Menjadi Nakal :
Sebelum mengetahui cara mendidik anak yang nakal, yang pertama di ketahui oleh orang tua adalah untuk mencari tahu apa penyebab anak menjadi nakal. Ada beberapa alasan untuk anak-anak yang tumbuh menjadi anak yang nakal pada usia tertentu, pada awalnya mereka benar-benar adalah anak yang baik. Namun dikarenakan beberapa faktor-faktor di bawah ini sehingga menyebabkan anak menjadi bandel di antaranya adalah sebagai berikut :

1. Ketika masih bayi atau di bawah usia sekitar lima tahun
Anak tersebut disosialisasikan oleh orang tua mereka dengan mematuhi semua kemauan anak. Hal ini sering terjadi, terutama bagi orang tua yang tidak tega melihat anaknya menangis sehingga mereka lebih memilih untuk menuruti apa yang diinginkan anak. Dengan memanjakan anak seperti ini, secara tidak langsung, orang tua tengah mendidik semua anak menjadi anak yang ingin bertemu dan jika tidak, mereka akan mengancam kedua orang tua dengan mengeluarkan sikap andalan, yang menangis. Hal ini membuat anak tumbuh menjadi nakal ketika mereka memasuki usia pra-sekolah. Mereka akan senang untuk merengek dan tidak jarang dari mereka yang berteriak meminta untuk membeli sesuatu terlepas dari kondisi orang tua pada saat itu. Yang paling penting adalah kebutuhan, apa pun kondisinya. Dengan mendapatkan anak manja sejak kecil, akan tumbuh pribadi yang egois.

2. Orang tua tidak menegur anak bahkan cenderung menertawakan mereka ketika mereka mengucapkan kata-kata yang tidak pantas
Hal ini tidak jarang terjadi dalam masyarakat kita, terutama di kalangan orang tua yang kurang berpendidikan. Cenderung membiarkan mereka dan menertawakan anak-anak mereka ketika anak-anak mereka mengatakan bahwa tidak sopan dan bahkan kotor berkata-kata. Dengan sikap orang tua yang seperti itu, maka anak akan berpikir bahwa apa yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan sehingga anak akan cenderung mengulang kata-kata perkataan- yang akan terbawa hingga ia tumbuh besar. Fenomena ini akan membuat anak tumbuh menjadi sombong dan tidak memiliki sopan santun.

3. Kurangnya penerapan pelajaran spiritual kepada anak
Sebagai orang tua, tentu saja kita semua tahu bahwa agama adalah satu-satunya pegangan hidup yang dapat membimbing seseorang untuk pergi ke arah yang lebih baik. Hal ini perlu disampaikan kepada anak-anak awal. Jika anak tidak diperkenalkan pada agama sejak ia masih kecil, maka ia akan tumbuh menjadi tidak terkendali sehingga sering daripada mereka yang tumbuh menjadi anak yang nakal.

4. Terlalu sering bertengkar di depan anak juga merupakan salah satu faktor utama anak tumbuh menjadi anak yang nakal
Peristiwa ini sering dialami oleh orang tua yang memiliki kehidupan rumah kurang harmonis bertengkar dimana mereka terlalu sering di hadapan anak sehingga anak berpikir bahwa keluarga mereka dipenuhi dengan kebencian yang mengakibatkan anak kebencian- menjadi memberontak protes terhadap perilaku kedua orang tua . Ketika kita melihat di sekitar anak-anak kita yang orang tuanya memiliki kehidupan rumah yang kurang harmonis, maka sering dijumpai pada anak-anak mereka.

5. Terlalu sering memberikan uang saku
Hal ini biasanya terjadi di kota-kota besar di mana anak-anak tumbuh dalam keluarga yang orang tuanya adalah mereka yang fokus pada karir. Orang tua cenderung untuk memfasilitasi anak-anak mereka dengan segala kelebihan dan kecukupan untuk menganggap bahwa mereka tidak perlu kasih sayang untuk pemenuhan hal-hal ini. Bahkan, membiasakan anak-anak dengan barang-barang mewah hanya akan membuat mereka tumbuh menjadi kurangnya kehidupan sosial dan tidak jarang dari mereka akan tumbuh menjadi anak yang nakal dan tak terkendali.

Kelima faktor di atas adalah beberapa dari banyak faktor yang dapat menyebabkan anak menjadi nakal. Setelah mengetahui beberapa faktor yang membuat anak-anak tumbuh menjadi anak yang nakal, langkah orang tua berikutnya adalah untuk mulai menghentikan kebiasaan yang menyebabkan anak menjadi nakal dengan menerapkan beberapa cara untuk mendidik anak nakal. Perlu diingat bahwa untuk mengembalikan anak menjadi penurut tidak semudah membalikkan telapak tangan, terutama ketika mereka masih anak-anak berusia. Untuk itu, ada beberapa langkah yang harus diambil oleh orang tua dalam mengatasi anak yang nakal.


Tips Cara Mengatasi Anak Nakal :

Langkah pertama
 
Langkah awal yang dapat di ambil dalam menangani anak nakal adalah untuk menetapkan aturan ketat di rumah untuk membatasi perilaku anak dianggap sudah melewati batas. Pada tahap pertama akan sangat sulit untuk diterima oleh anak, tetapi dengan menerapkan hukuman, maka mau tidak mau anak akan mematuhi peraturan yang ditetapkan oleh kedua orang tua. Tegas adalah kunci pertama mendidik anak yang harus anda lakukan karena akan lebih ke arah bijaksana. Penerapan hukuman yang di berikan kepada anak-anak tidak dalam bentuk fisik, tapi dalam bentuk lain seperti pemotongan tunjangan, mengurangi waktu bermain dan mencabut beberapa fasilitas yang biasanya digunakan oleh anak-anak seperti berhenti untuk memakai sepeda selama beberapa hari , dan lain-lain. Ini akan membuat anak berpikir untuk lebih mematuhi peraturan daripada mendapatkan itu konsekuensi yang merugikan anggaran untuk dirinya sendiri.

Langkah kedua 
Cara yang dapat di terapkan dalam memberikan masukan untuk anak yang nakal adalah untuk memberikan anak tanggung jawab sesuai dengan usia mereka. Misalnya, jika anak digunakan untuk menaruh sepatu, tas dan tidak mengubah seragam setelah sekolah, anak-anak akan kehilangan sepatu atau tas atau barang-barang favorit lainnya. Membiasakan diri menaruh perlengkapan sekolah di tempat dan menyuruh untuk berganti sendiri pakaian setelah pulang sekolahnya, anak-anak akan merasa bertanggung jawab penuh atas dirinya sendiri sehingga dari waktu ke waktu anak akan cenderung menjadi anak yang bertanggung jawab. Dengan demikian, anak-anak nakal terutama anak tidak disiplin akan berubah menjadi disiplin dan bertanggung jawab.

Langkah ketiga
Selain menetapkan aturan, tidak ada salahnya jika orang tua menjadi pendengar yang baik bagi anak, karena anak dapat menjadi nakal karena kurangnya perhatian dari orang tua atau anak-anak tidak memiliki tempat untuk berbicara tentang apa yang terjadi setiap hari. Luangkan waktu untuk mendengarkan anak bersama apa keluhan anak dan memberikan solusi terbaik untuk masalah yang mereka hadapi. Dengan menjadi pendengar yang baik dan penasihat, hati anak-anak yang awalnya kaku dan sering memberontak akan berubah secara perlahan karena mereka akan berpikir bahwa masih ada orang yang mau mendengarkan kata-katanya. Jangan selalu memberikan anak dengan nasihat, tapi cobalah untuk menjadi pendengar yang baik, pahami juga karakteristik nya supaya bisa saling berbagi satu sama lain. Dengan demikian, kenakalan mereka perlahan akan mereda.

Langkah keempat
Selama dalam masa proses perubahan sifat anak untuk bisa menjadi baik, perlu di ingat bahwa orang tua tidak boleh terlalu kasar terhadap anak-anak, tapi tidak terlalu lembut kepada mereka. Berada di tengah, yang masih lembut tapi tegas dengan mereka ketika mereka melakukan kesalahan. Dengan demikian, anak akan menyadari kesalahan yang mereka lakukan dan mereka akan tahu mana yang baik dan mana yang buruk bagi mereka. Sehingga, anak akan mampu mengendalikan diri dan akan tumbuh menjadi orang yang memiliki jiwa sikap yang stabil dan kuat. Dengan menerapkan beberapa solusi untuk menghentikan anak-anak nakal dan mengubahnya menjadi anak yang baik dan patuh, orang tua akan mendapatkan anak yang baik, kepribadian dan memiliki sopan santun terpuji dalam masyarakat.





http://www.bisikansehat.com/2015/07/4-tips-cara-mengatasi-anak-nakal.html

faktor lingkungan merokok

Faktor Lingkungan


Bandura dalam teori social learning berasumsi bahwa perilaku dan sistem nilai seorang remaja terbentuk oleh sekumpulan interaksi yang kompleks antara hubungan-hubungan sosial interpersonal. Perilaku bermasalah pada remaja, termasuk merokok, merupakan hasil interaksi antara variabel interpersonal seperti kepribadian, sikap, dan perilaku, dengan sistem lingkungan, termasuk lingkungan keluarga dan teman sebaya (Jessor & Jessor dalam Richardson dkk, 2002).
Faktor lingkungan keluarga meliputi struktur keluarga, riwayat, pola hubungan orang tua-anak, pola asuh, dan perilaku merokok orang tua. Struktur keluarga memainkan peran yang cukup signifikan dalam hal ini, misalnya dalam sebuah penelitian terungkap bahwa perceraian orang tua meningkatkan resiko perilaku ini (Gil dkk dalam Gullota & Adams, 2005). Di samping struktur keluarga, riwayat keluarga juga memainkan peran yang tidak kalah pentingnya. Keluarga dengan riwayat perilaku kejam, penyia-nyiaan, dan pengabaian berkontribusi terhadap pemakaian dan penyalahgunaan zat pada remaja, termasuk perilaku merokok. Pola interaksi dan hubungan dalam sebuah keluarga merupakan faktor yang juga berkontribusi terhadap perilaku merokok, misalnya dalam keluarga dengan tingkat peraturan dan pengawasan yang lebih ketat akan menurunkan tingkat perilaku merokok secara signifikan (Guo dkk dalam Gullota & Adams, 2005). Pola asuh adalah faktor lain yang mempengaruhi perilaku merokok. Secara lebih spesifik dapat dijelaskan bahwa perilaku merokok berhubungan dengan pola asuh permisif dan rendahnya tingkat kelekatan. Selain itu, penelitian-penelitian terdahulu menghasilkan temuan bahwa perilaku merokok orang tua mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perilaku merokok remaja. Conrad, Flay, dan Hill (dalam Richardson dkk, 2002) menemukan bahwa 7 dari 13 penelitian yang direview, perilaku merokok orang tua secara signifikan menjadi prediktor munculnya perilaku merokok pada usia remaja.
Perilaku merokok juga dapat disebabkan oleh pengaruh kelompok sebaya (peer group). Kelompok sebaya seringkali menjadi faktor utama dalam masalah penggunaan zat oleh remaja (Richardson dkk, 2002). Selama masa remaja, seorang individu mulai menghabiskan lebih banyak waktu dengan teman sebayanya daripada dengan orang tua. Hal ini berarti bahwa teman sebaya mempunyai peran yang sangat berarti bagi remaja, karena masa tersebut remaja mulai memisahkan diri dari orang tua dan mulai bergabung pada kelompok sebaya. Kebutuhan untuk diterima sering kali membuat remaja berbuat apa saja agar dapat diterima kelompoknya dan terbebas dari sebutan “pengecut” dan “banci” (Komalasari & Helmi, 2000). Memiliki teman-teman yang merokok memprediksi kebiasaan merokok pada seorang individu (Davison dkk, 2006). Sikap teman sebaya terhadap penggunaan berbagai zat termasuk nikotin dapat mempengaruhi individu untuk menggunakan zat tersebut. Dalam sebuah penelitian longitudinal ditemukan bahwa para pemuda New York yang pernah berhubungan dengan teman sebaya yang merokok atau memakai mariyuana lebih mungkin untuk memakai mariyuana dalam rentang kehidupan mereka (Brook dkk dalam Gullota & Adams, 2005). Harlianti (dalam Komalasari & Helmi, 2000) menemukan bahwa lingkungan sebaya memberikan sumbangan efektif sebesar 33,048%. Dalam penelitian lain terungkap bahwa identifikasi kelompok sebaya di kelas 7 memprediksi kebiasaan merokok di kelas 8. Meskipun pengaruh teman-teman sebaya adalah penting dalam pengambilan keputusan yang dilakukan para remaja untuk menggunakan suatu zat, namun mereka yang memiliki rasa efektivitas diri yang tinggi menjadi kurang terpengaruh oleh teman-teman sebaya mereka. Para remaja yang memiliki kualitas tersebut setuju dengan pernyataan seperti “Saya dapat membayangkan diri saya menolak memakai tembakau bersama pelajar seusia saya dan mereka tetap menyukai saya (Stacy dkk dalam Davison dkk, 2006).
Di samping karena pengaruh teman sebaya dan lingkungan keluarga, perilaku merokok juga dapat muncul sebagai akibat dari iklan di media massa. Iklan rokok di berbagai tempat dan media massa yang saat ini makin merajalela sangat menarik bagi para remaja (Widiyarso, 2008). Menurut López dkk (2004), beberapa penelitian telah menghasilkan temuan adanya hubungan yang cukup signifikan antara keterpaparan terhadap iklan rokok dengan perilaku merokok pada remaja. Melihat iklan di media massa dan elektronik yang menampilkan gambaran bahwa perokok adalah lambang kejantanan atau glamour, membuat remaja seringkali terpicu untuk mengikuti perilaku seperti yang ada dalam iklan tersebut (Mu’tadin, 2002). Iklan rokok Joe Camel telah dituduh bertanggung jawab menyebabkan 3,5 juta anak-anak di Amerika untuk merokok antara tahun 1988-1998 (Pierce dkk dalam López dkk, 2004). Iklan rokok terbukti dapat menghambat usaha orang tua melarang anak-anak mereka untuk tidak merokok dan mempengaruhi perilaku anak-anak muda untuk tetap merokok meski orang tua mereka melarangnya (Mu’tadin, 2002).



http://rizalnursetyo.blogspot.co.id/2012/06/v-behaviorurldefaultvmlo_9865.html

perilaku merokok

Teori Perilaku Merokok
 1.      Pengertian Perilaku Merokok
Para ilmuwan psikologi umumnya sesuai dalam pendapat bahwa pokok persoalan psikologi adalah perilaku, namun tetap terdapat perbedaan yang besar sekali dalam pendapat mereka mengenai hal-hal apa saja tepatnya yang harus dimasukkan ke dalam kategori perilaku tersebut. Dalam pengertian paling luas, perilaku ini mencakup segala sesuatu yang dilakukan atau dialami seseorang. Ide-ide, impian-impian, reaksi-reaksi kelenjar, lari, menggerakkan sesuatu, semuanya itu adalah perilaku. Dengan kata lain, perilaku adalah sebarang respon (reaksi, tanggapan, jawaban, balasan) yang dilakukan oleh suatu organisme. Sedangkan menurut pengertian yang lebih sempit, perilaku hanya mencakup reaksi yang dapat diamati secara umum atau objektif (Chaplin, 2005). Hampir sama dengan definisi tersebut, Atkinson dkk (tanpa tahun) menyatakan bahwa perilaku adalah aktivitas suatu organisme yang dapat dideteksi. Munculnya perilaku dari organisme ini dipengaruhi oleh faktor stimulus yang diterima, baik stimulus internal maupun stimulus eksternal.
Seperti halnya perilaku lain, perilaku merokok pun muncul karena adanya faktor internal (faktor biologis dan faktor psikologis, seperti perilaku merokok dilakukan untuk mengurangi stres) dan faktor eksternal (faktor lingkungan sosial, seperti terpengaruh oleh teman sebaya). Sari dkk (2003) menyebutkan bahwa perilaku merokok adalah aktivitas menghisap atau menghirup asap rokok dengan menggunakan pipa atau rokok. Menurut Ogawa (dalam Triyanti, 2006) dahulu perilaku merokok disebut sebagai suatu kebiasaan atau ketagihan, tetapi dewasa ini merokok disebut sebagai tobacco dependency atau ketergantungan tembakau. Tobacco dependency sendiri dapat didefinisikan sebagai perlaku penggunaan tembakau yang menetap, biasanya lebih dari setengah bungkus rokok per hari, dengan adanya tambahan distres yang disebabkan oleh kebutuhan akan tembakau secara berulang-ulang. Perilaku merokok dapat juga didefinisikan sebagai aktivitas subjek yang berhubungan dengan perilaku merokoknya, yang diukur melalui intensitas merokok, waktu merokok, dan fungsi merokok dalam kehidupan sehari-hari (Komalasari & Helmi, 2000). Sementara Leventhal & Cleary (1980) menyatakan bahwa perilaku merokok terbentuk melalui empat tahap, yaitu: tahap preparation, initiation, becoming a smoker, dan maintenance of smoking.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku merokok adalah aktivitas menghisap atau menghirup asap rokok dengan menggunakan pipa atau rokok yang dilakukan secara menetap dan terbentuk melalui empat tahap, yaitu: tahap preparation, initiation, becoming a smoker, dan maintenance of smoking.
1.      Etiologi Perilaku Merokok Pada Remaja
Sebelum membahas lebih lanjut mengenai etiologi perilaku merokok pada remaja, akan dibahas terlebih dahulu definisi remaja. Remaja atau adolescene berasal dari bahasa latin adolescere yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa.” Istilah ini mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik. Menurut Piaget (dalam Hurlock, 1999) secara psikologis masa remaja adalah usia di mana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa. Masa remaja adalah usia di mana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang dewasa melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak, integrasi dalam masyarakat, mempunyai banyak aspek efektif, kurang lebih berhubungan dengan masa puber. Termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok, tranformasi yang khas dari cara berpikir remaja memungkinkan untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa, yang kenyataannya merupakan ciri khas yang umum dari periode perkembangan. Monks (1999) membagi masa remaja menjadi tiga kelompok tahap usia perkembangan, yaitu early adolescence (remaja awal) yang berada pada rentang usia 12 sampai 15 tahun, middle adolescence (remaja pertengahan) yang berada pada rentang usia 15 sampai 18 tahun, dan late adolescence (remaja akhir) yang berada pada usia 18 sampai 21 tahun.
Dalam membahas etiologi (penyebab) gangguan penyalahgunaan dan ketergantungan zat ¾termasuk perilaku merokok, harus dipahami bahwa seorang individu menjadi tergantung pada zat umumnya melalui suatu proses. Pertama, orang yang bersangkutan harus mempunyai sikap positif terhadap zat tersebut, kemudian mulai bereksperimen dengan menggunakannya, mulai menggunakannya secara teratur, menggunakannya secara berlebihan, dan terakhir menyalahgunakannya atau menjadi tergantung secara fisik padanya. Setelah menggunakannya secara berlebihan dalam waktu lama, orang yang bersangkutan akan terikat oleh proses-proses biologis toleransi dan putus zat (Davison dkk, 2006). Secara lebih spesifik, Kurt Lewin (dalam Komalasari & Helmi, 2000) berpendapat bahwa perilaku merokok merupakan fungsi dari lingkungan dan individu. Artinya, perilaku merokok selain disebabkan faktor-faktor dari dalam diri juga disebabkan oleh faktor lingkungan. Berbagai penelitian di beberapa negara telah dilakukan untuk mengetahui faktor apa saja yang berperan terhadap perilaku merokok pada remaja. Beberapa penelitian yang dilakukan terhadap para remaja menghubungkan perilaku merokok ini dengan etnis (Scragg dkk, 2002), usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan orang tua, perilaku merokok orang tua, jumlah uang saku (Rachiotis dkk, 2008; Paavola dkk, 2004), perilaku merokok teman (Siziya dkk, 2007), dan intensitas melihat iklan rokok (Siziya dkk, 2008; López dkk, 2004). Berikut ini adalah penjelasan beberapa faktor yang berperan dalam perilaku merokok pada remaja:
1.      
1.      Faktor Individu
Erik H. Erikson (dalam Komalasari & Helmi, 2000) menyatakan bahwa keputusan seorang remaja untuk merokok berkaitan dengan adanya krisis aspek psikososial yang dialami pada masa perkembangannya, yaitu masa mencari identitas diri seperti usaha untuk menjelaskan siapa dirinya dan apa perannya dalam masyarakat. Dalam masa remaja ini, sering dilukiskan sebagai masa badai dan topan karena ketidaksesuaian antara perkembangan psikis dan sosial. Tugas utama seorang remaja adalah mengintegrasikan berbagai macam identifikasi yang mereka bawa dari masa kanak-kanak menuju identitas yang lebih utuh (Miller, 1993). Usaha-usaha untuk menemukan identitas diri tersebut tidak semuanya berjalan sesuai harapan, oleh karenanya beberapa remaja melakukan perilaku merokok sebagai cara kompensatoris.
Di sisi lain, saat pertama kali mengonsumsi rokok, gejala-gejala yang mungkin terjadi adalah batuk-batuk, lidah terasa getir, dan perut mual. Namun demikian, sebagian dari para pemula tersebut mengabaikan perasaan tersebut, biasanya berlanjut menjadi kebiasaan, dan akhirnya menjadi ketergantungan. Ketergantungan ini dipersepsikan sebagai kenikmatan yang memberikan kepuasan psikologis. Gejala ini dapat dijelaskan dari konsep tobacco dependency (ketergantungan rokok). Artinya, perilaku merokok merupakan perilaku yang menyenangkan dan bergeser menjadi aktivitas yang bersifat obsesif. Hal ini disebabkan sifat nikotin adalah adiktif, jika dihentikan secara tiba-tiba akan menimbulkan perasaan tidak nyaman. Secara manusiawi, orang cenderung untuk menghindari ketidakseimbangan dan lebih senang mempertahankan apa yang selama ini dirasakan sebagai kenikmatan sehingga dapat dipahami jika para perokok sulit untuk berhenti merokok (Komalasari & Helmi, 2000).
Selain karena krisis psikososial dan kepuasan psikologis, perilaku merokok pada remaja juga dapat timbul karena pengaruh emosi yang menyebabkan seorang individu mencari relaksasi. Merokok dianggap dapat memudahkan berkonsentrasi, memperoleh pengalaman yang menyenangkan, relaksasi, dan mengurangi ketegangan atau stres (Aritonang dalam Komalasari & Helmi, 2000). Saat ini para remaja menghadapi berbagai tuntutan, harapan, resiko-resiko, dan godaan-godaan yang nampaknya lebih banyak dan kompleks daripada yang dihadapi para remaja generasi sebelumnya. Semua ini sangat berpotensi menyebabkan remaja merasa tertekan dan stres. Remaja yang mengalami stres ini sangat mungkin mengembangkan perilaku merokok sebagai suatu cara untuk mengatasi stres yang mereka hadapi karena kurangnya perkembangan ketrampilan menghadapi masalah secara kompeten dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab (Santrock, 2002). Hal ini sesuai dengan riset yang dilakukan oleh Koalisi Untuk Indonesia Sehat (KuIS) terhadap 3.040 remaja di Jakarta yang menghasilkan temuan bahwa perilaku merokok dengan motif meringankan ketegangan dan stres menempati urutan tertinggi, yakni 54,59 persen (http://lifestyle.okezone.com).
Keterhubungan antara perilaku merokok dan stres telah diteliti oleh para ahli sejak tiga dekade yang lalu. Fink (2007) mencatat bahwa terdapat beberapa penemuan yang mengindikasikan bahwa secara klinis dan teoritis memang terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku merokok, stres, dan coping. Individu dengan masalah psikiatri seperti gangguan major depressive, berbagai macam gangguan kecemasan, schizophrenia, gangguan kepribadian antisosial, dan individu dengan trait kepribadian tertentu yang menyebabkan mereka lebih sering mengalami distres pribadi lebih mungkin untuk merokok. Contohnya, trait kepribadian neuroticism (kecenderungan umum untuk mengalami perasaan negatif dan stres) ternyata berhubungan dengan tingginya prevalensi perilaku merokok. Beberapa hasil penelitian terhadap keluarga, saudara kembar, dan molekul genetis memperlihatkan bahwa faktor genetis memainkan peran penting dalam perilaku merokok dan respon terhadap stres. Lebih lanjut dapat dijelaskan bahwa terdapat banyak gen yang berperan ganda, mempengaruhi seorang individu untuk merokok dan membuat seorang individu cenderung mengembangkan trait kepribadian dan gangguan psikiatri yang berhubungan dengan stres. Perilaku merokok juga seringkali digunakan sebagai cara untuk mengatasi stres meskipun merokok bukanlah cara coping yang sehat atau menguntungkan (Wills & Cleary dalam Davison, 2006). Seorang mantan perokok seringkali memutuskan untuk mulai merokok lagi ketika mereka mengalami stres karena kebanyakan perokok telah belajar bahwa merokok merupakan cara untuk mengurangi stres (Brandon, 2000). Hal ini berarti bahwa perilaku merokok akan terjadi dan akan dialami sebagai sebuah ganjaran (reward) bagi para perokok (Fink, 2007).





http://rizalnursetyo.blogspot.co.id/2012/06/v-behaviorurldefaultvmlo_9865.html

Di balik kebiasaan merokok

                                                Fakta dan Teori di Balik Kebiasaan Merokok


1. Tingkah laku adalah alternatif cara memuaskan kebutuhan.
Orang yang lapar membutuhkan sat makanan, tetapi sat makanan tidak harus berupa nasi. Sebetulnya, makan nasi hanyalah alternatif cara memuaskan kebutuhan akan sat makanan. Namun demikian, banyak orang yang mencari nasi ketika lapar. Ini disebabkan oleh kebiasaan. Merokok adalah juga tingkahlaku yang hanya merupakan alternatif untuk memuaskan sebuah kebutuhan


2. Ada kebutuhan yang tidak disadari
Tidak semua orang sadar apa yang sebetulnya ia butuhkan. Kita lebih sering menyadari apa yang kita inginkan. Anak kecil sering kali membutuhkan perhatian orang tuanya, sehingga ‘rela’ (tanpa sadar) untuk melakukan hal yang mendatangkan hukuman. Walaupun ia tidak suka dihukum, tetapi ia butuh perhatian. Dan hukuman adalah perhatian. Anak teman saya terus saja mempermainkan pintu kulkas, walaupun sudah berkali-kali dilarang. Sebabnya, kalau ia tidak nakal, ibunya asyik nontot sinetron. Ibunya hanya memperhatikan dia kalau dia nakal (main-main pintu kulkas). Sang anak tidak menyadari bahwa ia butuh perhatian. Perokok tidak menyadari apa kebutuhan yang menyebabkan ia merokok.
3. Kebiasan hanya terbentuk setelah pernah dicoba
Tidak ada orang yang punya kebiasaan makan nasi sebelum ia pernah mencoba makan nasi. Kebiasaan hanya terbentuk setelah pernah dicoba. Kalau percobaan mendatangkan akibat positif, percobaan akan diulangi dan lama-lama menjadi kebiasaan. Merokok jadi kebiasaan kalau percobaan pertama memberikan akibat positif. Tapi akibat positif dihayati ketika seseorang mendapatkan kebutuhan yang mungkin tidak ia sadari. Anak yang dihukum oleh ibunya karena ketahuan merokok, tampaknya mendapat akibat negatif (hukuman), tapi barang kali disamping akibat negatif itu ia juga menghayati akibat-akibat positif yang tidak disadari (penerimaan oleh kawan-kawan, dan mungkin juga merasa diperhatikan karena dimarahi)
4. Kebiasaan menguat kalau sering dijalankan
Makin sering sesereoang ke kantor melalui rute tertentu atau dengan cara tertentu, makin kuat kebiasaan itu. Makin sering orang merokok, makin kuat kebiasaan untuk merokok
5. Kebiasaan bisa diubah
Setelah nikah banyak wanita yang memutuskan mengubah tanda tangannya. Lalu akhirnya sebuah kebiasaan lama bertukar jadi kebiasaan baru. Sepanjang kehidupan seseorang tanpa sadar telah melakukan banyak perubahan kebiasaan. Intinya kebiasaan bisa diubah, termasuk kebiasaan merokok.
6. Perubahan kebiasaan membutuhkan tekad
Ketika memulai kebiasaan baru, tidak jarang orang ‘lupa’ dan secara otomatis menampilkan kebiasaan lamanya. Orang yang telah mengganti tanda tangannya, pada masa-masa permulan sering lupa. Agar berhasil membuat refleks baru, proses pembentukan refleks baru itu harus dilakukan dengan penuh kesadaran. Siswa kursus mengetik harus perlahan-lahan membiasakan diri meninggalkan kebiasaan mengetik 11 jari menjadi 10 jari. Mulai mulai makan bersama mertua, Dony harus sangat menyadari bahwa ia harus memotong daging dengan garpu dan pisau, bukan langsung memegang daging dan memotongnya dengan gigi. Orang yang abru mulai kebiasaan tidak-merokok jugha sering lupa dan mengulangi kebiasaan lama.
7. Merokok adalah kebiasaan, bukan kebutuhan dasar
Ada orang yang sehat tanpa pernah merokok. Rokok bukan kebutuhan untuk hidup sehat. Tanpa rokok orang tidak akan kekurangan zat yang dibutuhkan untuk hidup sehat.
8. Menyalakan rokok dirangsang oleh pikiran, bukan karena kekurangan nikotin.
Setelah satu jam tidak merokok, seseorang yang terbiasa menyalakan rokok baru setiap 1 jam, tanpa terlalu sadar menyalakan rokok baru. Dia bilang, tubuhnya sudah kekurangan nikotin, karena sudah satu jam tidak merokok. Padahal, kalau dia misalnya tertidur karena kecapaian selama 12 jam, dia tidak merasakan kekurangan nikotin. Kalau dia bercinta dengan pasangan yang menggariahkan selama beberapa jam, ia lupa akan kebutuhan nikotinnya. Dia sebetulnya merokok, karena ingat. Merokok dirangsang oleh pikiran, bukan oleh kekurangan nikotin
9. Merokok memuaskan kebutuhan psikologis
Ada orang yang sudah berkali-kali merokok tanpa sampai ketagihan. Ada orang yang baru satu dua kali merokok langsung ketagihan. Hanya orang tertentu yang jadi ketagihan, Jadi orang tidak akan merokok kalau dia tidak “membutuhkan” rokok. Dan dengan memperhatikan bahwa ada saat saat orang jadi lebih sering merokok dan disaat lain jarang merokok, harus disimpulkan bahwa merokok lebih merupakan cara memuaskan kebutuhan psikologis dan bukan memuaskan kebutuhan sikotin. Yang sulit, banyak orang tidak sadar kebutuhan psikologis apa yang membuatnya membutuhkan rokok.
10. Pecuma menakut-nakuti perokok
Banyak perokok berusia lanjut yang lebih sehat dari orang mudah yang tidak merokok. Perokok percaya bahwa merorok tidak langsung merusak kesehatan. Perokok juga tahu bahwa tiap perokok aktif adalah sekaliigus perokok pasif, karena perokok juga menghirup udara yang mengandung nikotin. Karena itu perokok fanatik akan menertawakan teori yang mengatakan bahwa perokok pasif lebih riskan. Mereka akan berkata, kalau benar perokok pasif itu lebih riskan, kan sebaiknya jadi perokok aktif.Berbedat dengan perokok tentang bahaya merokok tidak membuat perokok ingin berhenti merokok. Barangkali perdebatan itu justru memuaskan kebutuhan untuk “berperang” yang sebetulnya juga merupakan kebutuhan yang melahirkan kebiasaan merokok.
11. Tidak ada resep generik untuk menghentikan kebiasaan merokok
Kebiasaan merokok bisa diubah. Tetapi cara yang efektif untuk orang tertentu belum tentu efektif untuk orang lain. Tiap-tiap orang akan menemukan caranya sendiri, beberapa diantaranya ditemukan secara kebetulan. Yang palingpenting mengubah kebiasaan membutuhkan tekad. Jika orang hanya terpakasa mengubah kebiasaannya, tanpa kesediaan untuk berubah, maka satu saat kebiasaan itu akan kambuh lagi. Karena merokok dirangsang oleh pikiran, bukan karena kekuarangan nikotin



1. Fakta: Ada orang yang sehat tanpa pernah merokok. Teori: Rokok bukan kebutuhan untuk hidup sehat. Tanpa rokok orang tidak akan kekurangan zat yang dibutuhkan untuk hidup sehat.
2. Fakta: Ada orang yang sudah berkali-kali merokok tanpa sampai ketagihan. Ada orang yang baru satu dua kali merokok langsung ketagihan. Teori: Hanya orang tertentu yang jadi ketagihan, Jadi orang tidak akan merokok kalau dia tidak “membutuhkan” rokok.
3. Fakta: Ada orang yang ketagihan rokokTeori: Nikotin menyebabkan ketagihan. Ada orang yang membutuhkan nikotin.
4. Fakta: Banyak orang gagal berhenti merokok walaupun ia tetap memperoleh nikotin melalui hal lain (misalnya permen yang mengandung nikotin) Teori: Yang menyebabkan ketagihan bukan nikotin, yang dinikmati bukan nikotin tetapi kegiatan merokok. Dengan kata lain, Merokok adalah Kebutuhan Psikologis.
5. Fakta: Banyak perokok yang biasanya bisa menghabiskan 4 atau 5 batang dalam waktu 1 atau dua jam, bisa tidak ingat untuk merokok ketika sedang terlibat kegiatan yang menyenangkan atau melakukan kegiatan yang melibatkan seluruh perhatian. (misal sedang menyelam, sedang berolah raga, sedang bercumbu) Teori: Orang merokok, dipacu oleh situasi. Orang bukan ketagihan pada nikotin tetapi ketagihan pada kegiatan merokok.
6. Fakta: Tidak ada orang yang merokok pada saat sedang tidur. Jika orang kecapaian sehingga tidur jauh lebih lama dari biasanya maka selama itu pula ia tidak merokok. Selama itu pula tubuhnya tidak mendapatkan suplai nikotin, tapa membuatnya jadi gelisah. Padahal kalau dalam keadaan bangun mungkin tiap jam ia ingin merokokTeori: Yang menyebabkan keinginan merokok bukan keadaan kekurangan nikotin, tetapi pikiran.
7. Fakta: Ada orang yang susah berhenti merokok, ada orang yang bisa berhenti merokok, Teori: Orang yang berhenti merokok sudah tidak membutuhkan rokok, atau sudah mendapatkan hal lain sebagai pengganti rokok.
8. Fakta: Tiap perokok aktif adalah sekaligus perokok pasif (karena ia juga menghirup kembali udara disekitar yang penuh asap rokok).Teori: Tidak masuk akal bahwa perokok pasif lebih riskan terhadap bahaya merokok. Seandainya perokok pasif yang lebih riskan, lebih sekalian jadi perokok aktif.
9. Fakta: Ada banyak perokok yang lebih sehat dari orang yang tidak merokok.Teori: Tidak ada gunanya menakut-nakuti perokok bahwa kesehatannya akan terganggu. Perokok percaya bahwa merokok tidak otomatis mengganggu kesehatan. Harus dicari cara lain untuk membujuk perokok menghentikan kebiasaannya.
10. Fakta: Banyak kebiasaan yang bisa berubah tanpa disengaja, dan banyak kebiasaan yang gagal diubah melalui usaha yang sengaja.Teori: Tidak ada resep untuk menghentikan kebiasaan. Kebiasaan berhenti kalau diganti kebiasaan baru. Kebiasaan baru bisa muncul dengan sendirinya (secara tiba-tiba).
11. Fakta: Kebiasaan bisa diubah melalui kontrol kesadaran. Wanita yang menikah biasanya mengubah tanda tangannya. Awal prosesnya harus melalui kesadaran. Murid pelajaran bahasa Inggris bisa mengubah caranya mengucapkan kata-kata tertentu, tetapi awalnya harus ia lakukan dengan penuh kesadaran. Orang bisa mengubah kebiasan menyetir mobil waktu ganti mobil baru yang tombol-tombolnya berada ditempat berbeda.Teori: Perubahan kebiasaan memerlukan tekad dan harus terus menerus disadari
12. Fakta: Kecenderung untuk menampilkan sebuah tingkah laku, menjadi makin kuat jika tingkah laku sering ditampilkan, lebih-lebih jika penampilan tingkah laku itu menghasilkan akibat positif.Teori: Makin lama seseorang berhenti merokok, makin besar kemungkinan ia menghentikan kebiasaannya.
Diposkan oleh bmatindas di 04:26 http://img2.blogblog.com/img/icon18_edit_allbkg.gif


spiritual ( tujuan hidup atau arti hidup )

Membuat kemajuan spiritual (tujuan hidup atau arti hidup sesungguhnya)

Tingkat pencapaian spiritual samashti mengacu pada tingkat spiritual yang dicapai melalui latihan spiritual demi kepentingan masyarakat (samashti sādhanā), sedangkan latihan spiritual vyashti mengacu pada tingkat spiritual yang dicapai melalui latihan spiritual individu (vyashti sādhanā). Dalam waktu saat ini, kemajuan spiritual demi kepentingan masyarakat prioritasnya 70%, sedangkan latihan spiritual individu prioritasnya 30%.
Puncak perkembangan spiritual pada semua Jalan Spiritual adalah menyatu dengan Tuhan. ‘Menyatu’ dengan Tuhan berarti mengalami Kesadaran Tuhan di dalam diri kita dan di sekitar kita serta tidak mengidentifikasi diri dengan panca indera, pikiran dan intelek. Penyatuan ini terjadi pada kesadaran spiritual
100%. Kebanyakan orang di dunia saat ini berada pada tingkat kesadaran spiritual 20-25% dan enggan melakukan suatu latihan spiritual untuk mengembangkan spiritualitasnya. Mereka juga mengidentifikasikan diri mereka dengan panca indera, pikiran dan intelek. Hal ini tercermin dalam kehidupan kita dimana fokus utama kita terletak pada penampilan kita atau bersikap sombong tentang kepintaran atau kesuksesan kita.
Dengan melakukan latihan spiritual, ketika kita tumbuh ke tingkat kesadaran spiritual 60% (samashti) atau 70% (vyashti), kita terbebas dari siklus kehidupan dan kematian. Setelah tingkat kesadaran spiritual tersebut, kita dapat melunasi apapun yang tersisa dari akun memberi-dan-menerima kita dari alam-alam non-fisik/halusMahārlok ke atas. Namun terkadang, orang-orang di atas tingkat pencapaian spiritual 60% (samashti) atau 70% (vyashti) bisa saja memilih untuk dilahirkan kembali di Bumi untuk membimbing umat manusia dalam Spiritualitas.


https://www.spiritualresearchfoundation.org/indonesian/arti-tujuan-hidup-manusia

Kamis, 10 November 2016

MANFAAT GLOBE

MANFAAT GLOBE





Banyak informasi dan manfaat yang diperoleh dari adanya Globe, antara lain:
1. Dapat menirukan gerak rotasi bumi dan revolusi bumi dan mengetahui persebaran bentuk kenampakan alam yang ada di dunia.
2. Dapat memberi informasi tentang letak astronomi suatu wilayah di permukaan bumi dengan tepat.
3. Dapat memberikan informasi tentang titik koordinat astronomis suatu lokasi.
4. Dapat memberi informasi terjadinya gerhana dan memproyeksikan daerah di bumi yang mengalami gerhana.
5. Dapat memberi informasi tentang pembagian iklim berdasar garis lintang.
6. Dapat memberi informasi pembagian waktu di dunia.



http://www.eventzero.org/pengertian-dan-manfaat-globe/

                    

pengertian komponen peta


Pengertian peta, skala peta, fungsi peta, dan komponen peta adalah pembahasan kita kali ini sobat. Langsung aja ke TKP.

Peta adalah gambaran keadaan permukaan bumi yang ditampilkna pada suatu bidang datar dengan skala tertentu. Gambaran permukaan bumi yang dipetakan dapat meliputi wilayah yang luas atau hanya mencakup wilayah yang sempit. Contoh peta yang menggambarkan wilayah yang luas adalah Peta Dunia, Peta Benua, Peta Indonesia, Peta Sumatera, Peta Jawa, dan sebagainya. Sedangkan contoh peta yang menggambarkan bagian permukaan bumi yang lebih sempit adalah peta kota, peta kecamatan, peta kelurahan/desa, bahkan hanya dapat berupa peta lingkungan sekolah saja.



Peta pertama kali dibuat oleh bangsa Babilonia sekitar 2300 tahun Sebelum Masehi. Peta ini terbuat dari lempengan tanah liat yang awalnya diperuntukkan untuk kepentingan pajak tanah.

Untuk menggambarkan peta secara benar perlu digunakan skala. Skala adalah perbandingan jarak pada peta dengan jarak yang sebenarnya di permukaan bumi. Skala dapat berupa angka, garis, atau kedua-duanya. Skala yang berupa angka dinamakan skala numerik. Sedangkan skala yang berupa grafik dinamakan skala grafis.

Skala peta dapat dikelompokkan sebagai berikut.
  1. Peta skala kadaster, yaitu peta dengan skala antara 1 : 100 sampai 1 : 5.000.
  2. Peta skala besar, yaitu peta dengan skala antara 1 : 5.000 sampai 1 : 250.000.
  3. Peta skala sedang, yaitu peta dengan skala antara 1 : 250.000 sampai 1 : 500.000.
  4. Peta skala kecil, yaitu peta dengan skala antara 1 : 500.000 sampai 1 : 1.000.000.
  5. Peta skala geografi, yaitu peta dengan skala besar dari 1 : 1.000.000. peta skala geografi sering dinamakan dengan peta skala tinjau.


Fungsi Peta

Peta tidak hanya diperlukan dalam bidang geografi, tetapi juga dibutuhkan di bidang-bidang lain. Segala kegiatan yang terkait dengan lokasi atau keruangan membutuhkan peta. Petugas Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah tidak dapat membuat jalan tanpa ada petanya terlebih dahulu. Perusahaan-perusahaan perkebunan besar yang akan membuka lokasi perkebunan harus melihat peta sebelum memulai pekerjaan. Pelayar-pelayar yang mengarungi laut luas akan tersesat tanpa peta.

Secara umum, fungsi peta dapat disimpulkan sebagai berikut:
  1. Penunjuk jalan bagi orang-orang yang bepergian ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjunginya.
  2. Menunjukkan letak satu tempat di permukaan bumi dalam hubungannya dengan tempat lain (letak relatif).
  3. Memperlihatkan ukuran, karena dari peta dapat diukur jarak, luas, ataupun arah sebenarnya di permukaan bumi.
  4. Memperlihatkan bentuk seperti bentuk pulau, negara, benua, pola aliran sungai dan sebagainya.
  5. Membantu para peneliti sebelum melakukan survei untuk mengetahui kondisi daerah yang akan diteliti.
  6. Alat untuk menjelaskan rencana-rencana yang diajukan, dan lain-lain.



Komponen-komponen Peta

  • Judul peta

Judul peta biasanya diletakkan di bagian atas peta. Judul mencerminkan isi dan tipe peta.

  • Tahun dan sumber pembuatan peta

Tahun atau sumber pembuatan peta dapat diletakkan di bagian bawah kolom legenda atau sudut kiri bawah, di luar garis tepi peta.

  • Penunjuk arah

Penunjuk arah disebut juga mata angin. Umumnya menggunakan penunjuk arah utara. Penunjuk diletakkan di tempat yang kosong di bagian pinggir peta agar tidak mengganggu peta induknya.

  • Skala

Skala peta dapat dituliskan di bawah legenda, di luar garis pinggir peta, atau di bawah judul peta.

  • Legenda

Legenda berisi keterangan-keterangan tentang simbol-simbol yang digunakan pada peta. Simbol adalah gambar yang digunakan untuk mewakili objek yang dipetakan. Tujuannya adalah untuk memudahkan pemakai peta dalam memahaminya.

  • Garis Astronomi

Garis astronomi terdiri dari garis lintang dan garis bujur. Gunanya untuk menentukan letak astronomis satu tempat (letak lintang dan bujur). Pada pinggir peta ditulis angka derajat yang menunjukkan derajat garis lintang atau garis bujur. Garis astronomis dipakai dalam peta-peta yang skalanya kecil sampai sedang.

  • Garis tepi

Garis tepi biasanya dibuat dua buah dengan ketentuan garis luar lebih tebal dari garis dalam.

  • Inset

Inset adalah gambar peta yang menunjukkan letak atau posisi satu daerah terhadap daerah sekitarnya yang lebih luas. Misalnya, posisi Indonesia di Benua Asia. Petanya dibuat di luar peta utama tetapi masih berada dalam garis tepi peta utama.


http://www.softilmu.com/2014/08/peta.html